Kecerdasan dan Kemampuan Spiritual Yang Dapat Menangkal Dampak Negatif Artificial Intelligence Terhadap Nilai Kemanusiaan.

Postsurabaya.com – Kehadiran teknologi Artificial Intelligence yang akan mengganti kecerdasan buatan manusia atau robot yang dikendalikan oleh komputer untuk melakukan pekerjaan manusia sangat potensial mengabaikan nilai kemanusiaan yang tidak masuk dalam pekerjaan nalar pikiran manusia.

Sehingga rasa, insting, getaran jiwa, firasat hingga naluri dan sejenisnya sebagai potensi ilahiah dari Tuhan bisa tercampak, tidak lagi terpakai dalam interaksi dengan sesama makhluk serta alam dan seisinya sampai Sang Maha Pencipta.

Sikap dan sifat dehumanisasi, nilai yang sepenuhnya berada dalam wilayah batin, ruh atau jiwa manusia tidak lagi terpakai ketika artificial intelligence digunakan untuk berbagai kegiatan atau aktivitas dalam pekerjaan sehari-hari.

Seperti dalam menghafal surat-surat dan ayat Al Qur’an misalnya, artificial intelligence boleh dikata akurat, tapi ruh atau nafas dari surat-surat dari langit itu terasa tidak bernyawa, alias mati.

Sehingga tidak mampu menggetarkan frekuensi yang ada di langit.

Itulah sebabnya hanya melalui kecerdasan dan kemampuan spiritual semua itu bisa diatasi.

Dan dengan sendirinya kemampuan serta kecerdasan spiritual semakin relevan diperlukan oleh manusia hari ini dan di masa depan yang akan semakin melesat meninggalkan manusia yang semakin terasing dalam keramaian dan kecepatan perubahan yang terus terjadi.

Karena itu, maka kecerdasan dan ketangguhan spiritual akan menjadi semacam garansi penjamin bagi manusia modern agar tidak sampai tergelincir menjadi manusia yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai fitrah pemberian langsung dari Tuhan, sehingga manusia layak disebut khalifah yang mewakili Tuhan di bumi.

Celakanya ketika manusia kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang merupakan pemberian Tuhan kepada manusia ini.

Maka tiada lagi akan ada artinya kemuliaan manusia dibanding makhluk lainnya yang cuma memiliki kehendak atas desakan hasrat birahi semata tanpa etika dan moral serta akhlak yang harus selalu mengacu kepada petunjuk langit.

Dalam kurungan yang dominan dari teknologi artificial intelligence ini, manusia telah dipersamakan dengan mesin komputer yang menggantikan fungsi dan peran manusia yang memiliki ruh, jiwa, batin, serta rasa dan hati nurani.

Penerapan sistem artificial intelligence dalam berbagai bidang kegiatan dan aktivitas manusia pada era milenial sekarang ini semakin meluas dan terus berkembang.

Mulai dari mengenal ucapan, hingga pelayanan terhadap pelanggan atau customer service, sampai sistem dari komputer untuk memperoleh informasi dari gambar.

Video dan input visual lainnya yang dapat memenuhi keinginan konsumen seperti pencitraan radiologi untuk kesehatan hingga self driving car atau Google Map penunjuk jalan.

Konsep yang dikembangkan Alan Mathison Turing pada tahun 1935 bermula dari diskripsi mesin komputasi abstrak dengan memori yang tidak terbatas itu.

Meski jauh sebelum itu sesungguhnya semua itu erat terkait dengan penemuan ilmu algoritma yang dilakukan oleh Al Khawarizmi dari Uzbekistan yang kini lebih dikenal dengan sebutan Khiva, pada tahun 780 Masehi.

Namun dalam pergaulannya dengan bangsa Eropa, dia lebih populer dengan nama Algoritm, Algoritmus atau Algoritma seperti yang juga kita kenal sekaran.

Jadi, kebanggaan sekaligus rasa kegelisahan umat manusia pada era milenial sekarang ini, menjadi pendorong sekaligus musuh yang nyata dari kecerdasan dan kemampuan spiritual sangat diperlukan untuk membentengi etika.

Moral serta akhlak manusia untuk tetap menjadi makhluk Tuhan yang paling sempurna dan mulia, atau menjadi bagian dari mesin yang mampu berkerja dan menghasilkan suatu pilihan instan hanya untuk memenuhi keperluan, kepentingan atau sekedar kebahagiaan yang artificial juga.

Dalam tata krama dialog pun melalui media sosial telah cukup banyak menggunakan jawaban instan yang dilayani dengan mesin otomatis sistem kerja komputer yang sangat terkesan tidak bersahabat, atau bahkan meleceh pihak yang bersangkutan.

Untuk jawaban mesin komputer tersebut. Artinya, dapatlah segera dipahami bahwa untuk menjadikan artificial intelligence sebagai sarana komunikasi saja.

Sudah dapat menimbulkan masalah yang cukup gawat mengganggu hubungan yang tidak harmoni.

Opini : Jacob Ereste

[otw_is sidebar=otw-sidebar-7]

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.